Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional

oleh -14 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Abdul Gofar*

Ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan optimisme nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada triwulan III 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam jalur positif dengan dukungan berbagai sektor produktif, peningkatan perdagangan, serta penguatan industri manufaktur. Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga konstan tercatat mencapai Rp3.633,2 triliun, sedangkan berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.741,0 triliun.

banner 336x280

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut memperlihatkan kemampuan Indonesia menjaga momentum pembangunan di tengah berbagai tantangan perekonomian internasional. Menurutnya, industri pengolahan menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan andil mencapai 1,20 poin persentase. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi sebesar 0,62 poin persentase, serta sektor informasi dan komunikasi memberikan kontribusi 0,49 poin persentase.

Industri pengolahan sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut didukung permintaan pasar domestik maupun internasional yang semakin membaik. Salah satu subsektor yang memperlihatkan perkembangan positif adalah industri makanan dan minuman dengan pertumbuhan 7,09 persen. Kinerja ini ditopang peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO), produk turunan minyak kelapa sawit atau CPO, serta pemanfaatannya untuk kebutuhan produksi biodiesel di dalam negeri.

Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga mencatatkan pertumbuhan 8,10 persen seiring meningkatnya produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan pupuk menjelang musim tanam. Sementara itu, industri logam dasar tumbuh mencapai 9,94 persen berkat peningkatan ekspor berbagai komoditas, termasuk katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil serta sepeda motor, turut menunjukkan perkembangan dengan pertumbuhan 7,14 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,46 persen dan tahun 2024 sebesar 4,85 persen.

Sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut, sejumlah indikator makroekonomi juga telah memberikan gambaran positif mengenai kondisi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai stabilitas harga, perkembangan industri manufaktur, dan kinerja perdagangan luar negeri menjadi tiga faktor penting yang menjaga kekuatan ekonomi Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya mempertahankan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui koordinasi kebijakan yang berkelanjutan.

Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,24 persen. Meskipun demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapatkan perhatian karena mengalami inflasi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas pangan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah memperkuat koordinasi bersama Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Upaya pengamanan pasokan juga dilakukan melalui optimalisasi irigasi, percepatan masa tanam, pemanfaatan lahan produktif, dan penguatan sistem peringatan dini. Menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, pemerintah turut meningkatkan pemantauan harga serta memperkuat distribusi pangan antardaerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Di sektor perdagangan internasional, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS. Hasil tersebut memperpanjang tren surplus selama tiga bulan berturut-turut. Nilai ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS atau meningkat 3,68 persen secara bulanan dan 11,87 persen secara tahunan. Peningkatan ekspor didukung sejumlah komoditas unggulan, seperti batu bara, gas alam, minyak kelapa sawit, karet alam, bijih besi, dan tembaga.

Pemerintah juga memperluas akses pasar melalui implementasi 25 perjanjian perdagangan internasional, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan. Persiapan pemberlakuan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) menjadi langkah strategis untuk membuka peluang perdagangan yang lebih luas dengan kawasan Eropa. Di sisi lain, impor Indonesia tercatat sebesar 24,23 miliar dolar AS. Impor migas turun 7,35 persen secara bulanan menjadi 3,27 miliar dolar AS, sejalan dengan penerapan kebijakan biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.

Perkembangan positif juga terlihat pada Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026 dari sebelumnya 52,4. Ekspansi tersebut mencerminkan peningkatan pesanan baru, aktivitas produksi, dan permintaan ekspor. Bahkan, pertumbuhan pesanan ekspor baru mencatatkan capaian tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011.

Berbagai perkembangan ini menggambarkan hasil kebijakan pemerintah selama setahun terakhir dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional. Penerapan biodiesel B50, perluasan kerja sama perdagangan internasional, penguatan hilirisasi, serta dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya, dan Kredit Program Perumahan menjadi bagian dari langkah memperluas aktivitas ekonomi produktif. Pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program magang dan pelatihan vokasi agar kebutuhan tenaga kerja terampil dapat terpenuhi.

*Penulis merupakan pengamat kebijakan publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.