Ramadan, Momentum Memperkuat Toleransi dan Meredam Radikalisme

oleh -3 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta – Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan moderasi beragama. Di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya polarisasi di media sosial, Ramadan dapat menjadi kesempatan penting untuk menanamkan nilai toleransi sekaligus menggugurkan benih radikalisme, terutama di kalangan generasi muda.

Anggota Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita, mengatakan bahwa toleransi sebenarnya bukan konsep baru bagi masyarakat Indonesia. Nilai tersebut telah menjadi bagian dari tradisi dan peradaban bangsa sejak lama.

banner 336x280

“Toleransi beragama di Indonesia menurut saya bukan hal baru. Ini adalah warisan peradaban kita. Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah hidup dalam keberagaman dan saling memahami satu sama lain. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa jika Tuhan menghendaki, manusia bisa saja dijadikan satu umat, tetapi kenyataannya tidak demikian. Artinya ada nilai untuk saling memahami di antara manusia,” ujar Rabicha.

Menurut Rabicha, tantangan toleransi saat ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial secara langsung, tetapi juga di ruang digital yang sangat mempengaruhi cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda.

“Kalau dulu toleransi lebih terlihat dalam kehidupan bertetangga dan interaksi langsung, sekarang tantangannya ada di media sosial. Perbedaan sering diprovokasi di ruang digital. Jadi toleransi hari ini bukan hanya soal sikap, tetapi juga kedewasaan seseorang dalam menyaring informasi dan narasi agama. Budaya toleransi Indonesia sebenarnya kuat, tetapi sedang diuji oleh polarisasi di era digital,” jelas Rabicha.

Rabicha juga menegaskan bahwa Ramadan memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa merupakan latihan spiritual untuk mengendalikan ego manusia.

“Shaum atau puasa artinya menahan. Bukan hanya menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan ego, amarah, kebencian, dan kesombongan. Justru Ramadan adalah momentum yang sangat tepat untuk meningkatkan moderasi beragama dan toleransi dengan cara menahan diri dari ujaran kebencian dan kemarahan,” kata Rabicha.

Rabicha menambahkan bahwa kualitas puasa seseorang dapat terlihat dari perubahan sikap setelah Ramadan berakhir.

“Kalau setelah Ramadan seseorang masih mudah membenci orang lain, bisa jadi yang berpuasa hanya perutnya, belum hatinya. Karena seharusnya Ramadan membuat kita lebih mampu menahan diri dan memperluas empati kepada sesama,” ungkap Rabicha.

Di sisi lain, Rabicha mengingatkan bahwa paham radikalisme saat ini banyak menyasar generasi muda, terutama melalui media sosial. Menurutnya, generasi muda berada dalam fase pencarian identitas sehingga lebih rentan terhadap propaganda ideologi ekstrem.

“Kalau kita bicara radikalisme di kalangan Gen Z, memang banyak yang menyasar anak muda karena mereka sedang mencari identitas dan makna hidup. Yang mengkhawatirkan sekarang bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Propaganda radikal sering datang dari algoritma media sosial yang pelan-pelan mempengaruhi cara berpikir,” ujar Rabicha.

Rabicha menegaskan bahwa radikalisme tidak lahir dari pemahaman agama yang mendalam, melainkan dari pemahaman yang sempit.

“Radikalisme itu bukan lahir dari agama yang dalam, tetapi dari pemahaman agama yang sempit. Kadang paham itu masuk tanpa disadari melalui bacaan, postingan, film, bahkan lagu. Karena itu literasi digital dan pendampingan kepada generasi muda menjadi sangat penting,” kata Rabicha.

Untuk mencegah penyebaran radikalisme, Rabicha memberikan sejumlah tips kepada generasi muda agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Salah satunya adalah dengan mengikuti akun-akun yang kredibel dan terverifikasi.

“Kita memang tidak bisa menolak media sosial sepenuhnya. Maka yang harus dilakukan adalah bijak. Tipsnya, follow akun-akun yang terafiliasi dengan institusi keagamaan yang diakui secara akademik. Apa yang kita ikuti akan mempengaruhi algoritma yang kita terima setiap hari,” ujar Rabicha.

Selain itu, Rabicha juga menekankan pentingnya peran orang tua, guru, dan lingkungan dalam mendampingi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh paham radikal.

“Pendamping juga harus semakin peka. Kita bisa melihat dari pilihan kata atau keyword yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kalau mulai muncul ujaran kebencian atau polarisasi, itu harus menjadi perhatian. Karena itu diskusi langsung di luar media sosial sangat penting untuk meminimalisir penyebaran radikalisme,” jelas Rabicha.

Rabicha berharap Indonesia dapat terus menjadi contoh dunia bahwa agama dan nilai kemanusiaan dapat berjalan berdampingan.

“Saya berharap Indonesia tetap menjadi contoh bahwa agama bisa berjalan seiring dengan kemanusiaan. Islam itu rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk umat Islam saja. Islam tidak hadir untuk menakutkan manusia, tetapi untuk menenangkan dunia,” kata Rabicha.

Rabicha juga mengingatkan bahwa generasi muda hidup di era informasi yang sangat cepat sehingga kemampuan mengendalikan diri menjadi kunci menjaga harmoni sosial.

“Generasi muda hari ini hidup di era yang serba cepat, informasi cepat, opini cepat, bahkan ujaran kebencian juga cepat. Karena itu kita perlu kembali pada pesan spiritual Ramadan, yaitu mengendalikan diri sebelum menghakimi orang lain. Jika generasi muda mampu memadukan iman yang dalam, pikiran yang kritis, dan hati yang luas, maka kita tidak hanya menjaga toleransi, tetapi juga menjaga masa depan bangsa,” pungkas Rabicha.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.