Oleh : Rahmat Hidayat )*
Stabilitas nilai tukar rupiah merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan perekonomian nasional. Dalam konteks dinamika ekonomi global yang terus berubah, mulai dari ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan kebijakan moneter negara-negara besar, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi kunci untuk memastikan rupiah tetap terjaga. Ketika pemerintah dan otoritas moneter menunjukkan keselarasan langkah dan komunikasi kebijakan yang kuat, pasar memperoleh sinyal positif bahwa Indonesia memiliki strategi yang solid dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal. Dalam situasi seperti inilah pentingnya satu suara antara pemerintah dan BI dalam menjaga stabilitas rupiah sebagai simbol kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Kebijakan ekonomi makro yang terkoordinasi antara pemerintah dan BI mencerminkan pendekatan yang komprehensif dalam menjaga stabilitas. Pemerintah berperan menjaga disiplin fiskal, mengendalikan defisit anggaran, serta memastikan berbagai program pembangunan tetap berjalan secara berkelanjutan. Di sisi lain, BI menjalankan kebijakan moneter yang pruden melalui pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, serta penguatan sistem keuangan. Ketika kedua instrumen kebijakan ini berjalan selaras, dampaknya tidak hanya terasa pada stabilitas rupiah, tetapi juga pada meningkatnya kepercayaan investor domestik maupun internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Keselarasan kebijakan ini juga terlihat dalam berbagai langkah konkret yang diambil untuk merespons dinamika pasar keuangan global. Bank Indonesia secara aktif melakukan stabilisasi di pasar valuta asing, menjaga likuiditas rupiah, serta memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar. Sementara itu, pemerintah memastikan fundamental ekonomi tetap kuat melalui penguatan sektor riil, peningkatan ekspor, serta pengendalian impor yang lebih produktif. Kombinasi kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa stabilitas rupiah bukan hanya tanggung jawab satu lembaga, melainkan hasil kerja bersama yang dirancang secara strategis.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, mengatakan BI akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini dilakukan untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah. Pelemahan rupiah masih aligned dengan kondisi regional, yang month to date melemah 0,51%. Pelemahan ini relatif lebih baik dibandingkan kondisi mata uang di regional.
Selain itu, pemerintah terus mendorong diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi agar ketahanan rupiah semakin kuat. Program hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, serta pengembangan ekonomi digital menjadi contoh langkah yang mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Ketika struktur ekonomi semakin kuat dan tidak bergantung pada satu sektor saja, tekanan terhadap rupiah dapat lebih mudah dikelola. Dalam konteks ini, kebijakan pembangunan yang dijalankan pemerintah menjadi pelengkap penting bagi kebijakan stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
Koordinasi kebijakan juga semakin diperkuat melalui berbagai forum strategis, seperti rapat koordinasi antara kementerian terkait dan Bank Indonesia dalam merespons perkembangan ekonomi global. Melalui mekanisme ini, setiap kebijakan yang diambil dapat mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun stabilitas sistem keuangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan ekonomi Indonesia semakin modern dan berbasis pada kolaborasi institusional yang kuat.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perekonomian Indonesia tidak sedang menuju krisis atau resesi, meski rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.000 terhadap dolar Amerika Serikat dan IHSG anjlok. Kondisi ekonomi Indonesia justru sebaliknya, sedang ekspansi dan pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat. Pihaknya juga memastikan kondisi ekonomi Indonesia masih pada fase pertumbuhan positif.
Kepercayaan pasar terhadap rupiah juga tercermin dari tetap terjaganya aliran investasi ke Indonesia. Investor melihat stabilitas kebijakan sebagai faktor utama dalam menentukan keputusan investasi. Ketika pemerintah dan Bank Indonesia menunjukkan kesatuan sikap dalam menjaga stabilitas ekonomi, risiko ketidakpastian dapat ditekan. Hal ini pada akhirnya memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
Tidak kalah penting, stabilitas rupiah juga memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Nilai tukar yang terjaga membantu mengendalikan inflasi, menjaga daya beli, serta memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam merencanakan kegiatan produksi dan investasi. Dengan demikian, kerja sama erat antara pemerintah dan Bank Indonesia bukan sekadar strategi teknis dalam pengelolaan ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya melindungi kesejahteraan masyarakat secara luas.
Ke depan, tantangan ekonomi global diperkirakan masih akan diwarnai oleh ketidakpastian. Namun pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai krisis menunjukkan bahwa koordinasi kebijakan yang kuat mampu menjadi tameng yang efektif. Ketika pemerintah dan Bank Indonesia tetap menjaga keselarasan langkah, Indonesia memiliki modal besar untuk mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan yang ada.
Satu suara antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga rupiah bukan sekadar simbol harmonisasi kebijakan, tetapi merupakan wujud komitmen bersama untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan ekonomi nasional. Dengan fondasi koordinasi yang kuat, rupiah tidak hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga representasi dari kepercayaan terhadap masa depan ekonomi Indonesia yang semakin tangguh, inklusif, dan berdaya saing di tengah percaturan ekonomi global.
)* Pengamat Ekonomi














