Kehadiran Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Bersifat Pendampingan Karakter

oleh -3 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah merupakan salah satu upaya strategis untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan akademik, Sekolah Rakyat juga dirancang sebagai lingkungan pendidikan berasrama yang menekankan pembentukan karakter, kemandirian, serta pembiasaan hidup disiplin. Dalam konteks tersebut, rencana pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) mendapat perhatian publik. Meski sempat memunculkan beragam persepsi, pemerintah menegaskan bahwa kehadiran para taruna bukan untuk menghadirkan pendidikan bergaya militer, melainkan sebagai pendamping dalam proses pembentukan karakter peserta didik.

banner 336x280

Karakter menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Kemampuan akademik yang baik akan lebih optimal apabila diiringi dengan sikap disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, serta kemampuan beradaptasi. Nilai-nilai tersebut tidak selalu dapat dibentuk melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi siswa yang tinggal di lingkungan asrama.

Model pendidikan berasrama memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sekolah reguler. Para siswa dituntut mampu mengatur aktivitas harian secara mandiri, mulai dari menjaga kebersihan diri, merapikan tempat tidur, mengelola perlengkapan pribadi, hingga membangun kebiasaan hidup tertib sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pada masa awal tinggal di asrama, proses adaptasi sering kali menjadi tantangan tersendiri karena siswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda dari kehidupan di rumah.

Dalam konteks ini pemerintah memandang pengalaman hidup para taruna Akmil dapat memberikan teladan yang relevan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa pelibatan taruna merupakan inisiatif Kementerian Sosial untuk mendukung proses pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat yang sama-sama menjalani pendidikan berasrama. Menurutnya, para taruna diharapkan mampu memberikan contoh sederhana mengenai bagaimana menjalani kehidupan yang tertib, disiplin, dan mandiri, seperti membiasakan bangun pagi, merapikan tempat tidur, menjaga perlengkapan pribadi, menggunakan seragam dengan baik, serta membangun kebiasaan hidup yang teratur. Ia juga menegaskan bahwa tidak terdapat agenda latihan fisik militer sebagaimana yang sempat dikhawatirkan sebagian masyarakat.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi program bukan membentuk siswa menjadi taruna ataupun mengenalkan pendidikan militer kepada anak-anak. Sebaliknya, pemerintah ingin memanfaatkan pengalaman praktis yang dimiliki para taruna dalam menjalani kehidupan berasrama agar dapat menjadi contoh positif bagi siswa yang sedang memasuki fase adaptasi.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa para taruna tidak akan mengambil alih peran guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurutnya, fungsi utama mereka adalah menjadi pendamping kehidupan asrama selama beberapa hari agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara nyaman sekaligus membangun kebiasaan hidup mandiri. Ia juga menjelaskan bahwa pendampingan tersebut mencakup pembinaan terhadap budaya saling menghormati dan pencegahan berbagai bentuk kekerasan maupun perundungan antarsiswa.

Kehadiran pendamping yang memahami dinamika kehidupan asrama memang memiliki nilai strategis. Pengalaman menunjukkan bahwa masa transisi menuju kehidupan berasrama sering menjadi periode yang cukup menantang bagi peserta didik. Mereka tidak hanya harus beradaptasi dengan jadwal kegiatan yang lebih teratur, tetapi juga belajar hidup bersama teman-teman dari latar belakang yang beragam. Pendamping yang memiliki pengalaman serupa dapat membantu siswa melalui proses tersebut dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami.

Program pendampingan ini juga bersifat terbatas. Pemerintah menjelaskan bahwa sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II akan ditempatkan di 178 titik Sekolah Rakyat dalam kegiatan pendampingan selama lima hari pada awal Agustus 2026. Selama periode tersebut, para taruna akan membimbing aktivitas keseharian siswa, seperti menjaga kerapian kamar, merawat perlengkapan pribadi, menyetrika pakaian, menyemir sepatu, hingga membangun kebiasaan hidup disiplin yang mendukung aktivitas belajar.

Pendekatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Berbagai sekolah berasrama di Indonesia maupun di berbagai negara menerapkan sistem mentoring oleh senior, alumni, ataupun pendamping yang telah memiliki pengalaman hidup di lingkungan asrama. Tujuannya bukan untuk memberikan tekanan kepada peserta didik, melainkan membantu mereka beradaptasi sehingga mampu menjalani kehidupan sekolah secara mandiri dan bertanggung jawab.

Dalam implementasinya, pemerintah juga menegaskan bahwa pembinaan akan dilakukan secara persuasif dan mengedepankan pendekatan yang humanis. Kondisi psikologis siswa menjadi perhatian utama, mengingat sebagian besar peserta didik masih berada pada fase penyesuaian ketika pertama kali memasuki lingkungan asrama. Oleh karena itu, proses pendampingan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan emosional anak sehingga mereka dapat merasa aman dan nyaman selama mengikuti pendidikan.

Penjelasan tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa pembentukan karakter tidak identik dengan pendekatan keras, melainkan melalui keteladanan, komunikasi, dan pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, keterlibatan taruna Akmil di Sekolah Rakyat dapat dipahami sebagai bentuk kolaborasi untuk menanamkan nilai disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab, sehingga mampu mendukung lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.