Harga Minyak Menguat, Prospek Pendapatan Negara dari Migas Meningkat

oleh -14 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA — Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) menunjukkan prospek positif dalam memperkuat penerimaan negara pada 2026. Di tengah dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga minyak mentah, penerimaan hulu migas diproyeksikan mencapai 109 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menyampaikan proyeksi tersebut dalam konferensi pers persiapan Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Hingga saat ini, realisasi penerimaan telah mencapai sekitar 80 persen dari target tahunan.

banner 336x280

“Tahun 2026 ini insyaallah kami berhasil mencetak 109 persen lebih tinggi daripada target APBN yang telah ditetapkan. Tentunya ini tidak lepas dari adanya peningkatan harga komoditas dari minyak mentah itu sendiri,” kata Desti.

Optimisme tersebut didukung kenaikan Indonesian Crude Price (ICP). Seusai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa harga ICP telah menembus US$100 per barel.

Desti menjelaskan, peningkatan harga minyak dapat mendorong penerimaan negara melalui mekanisme bagi hasil. “Pada saat harga naik walaupun lifting tidak naik signifikan, itu tetap mampu menaikkan target penerimaan negara,” ujarnya.

Menurut Desti, peluang tersebut perlu dioptimalkan melalui strategi komersialisasi yang adaptif dan percepatan lifting. “Yang bisa kita optimalkan adalah skema komersialisasi untuk percepatan lifting,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga keterjangkauan energi bagi masyarakat. Bahlil menegaskan tidak ada perubahan harga BBM bersubsidi, sedangkan BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga minyak memang berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi. Namun, peningkatan penerimaan hulu migas diharapkan membantu memperkuat kapasitas fiskal nasional.

Desti menegaskan, pencapaian target membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. “Tanpa upaya dan strategi komersialisasi yang dilakukan oleh SKK Migas dan kontraktor kerja sama serta para pemangku kebijakan, target penerimaan negara tentunya sulit untuk dapat terealisasi,” tandasnya.

Melalui optimalisasi produksi dan komersialisasi, sektor hulu migas diharapkan semakin berperan dalam mendukung ketahanan energi, penerimaan negara, dan keberlanjutan pembangunan nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.