Oleh: Asep Syahroni)*
Penguatan peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai motor penggerak hilirisasi dan investasi nasional semakin menemukan momentumnya. Dalam forum Business Summit yang digelar di US Chamber of Commerce, Washington DC, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memaparkan visi besar Indonesia sebagai destinasi investasi yang kompetitif, stabil, dan menjanjikan di kawasan Asia Tenggara.
Presiden Prabowo Subianto, mengatakan bahwa Indonesia tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga tengah bergerak cepat dalam industrialisasi dan hilirisasi. Transformasi ini diarahkan untuk memastikan setiap komoditas strategis yang dimiliki Indonesia mampu memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri. Dengan cadangan nikel, tembaga, dan bauksit yang besar, Indonesia berada pada posisi strategis dalam mendukung industri kendaraan listrik dan teknologi masa depan. Selain itu, potensi cadangan tanah jarang yang signifikan semakin memperkuat daya tawar Indonesia dalam rantai pasok global.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan agenda hilirisasi nasional yang terintegrasi. Tahun ini, pemerintah menginisiasi 18 proyek hilirisasi di berbagai sektor prioritas, termasuk proyek pengolahan sampah menjadi energi dengan nilai investasi mencapai Rp50,4 triliun atau sekitar USD 3 miliar. Proyek-proyek ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, serta penguatan struktur industri nasional.
Dalam konteks itulah Danantara diproyeksikan menjadi lokomotif investasi nasional. Sebagai badan pengelola investasi strategis, Danantara berperan dalam memastikan pendanaan proyek berjalan efektif, tata kelola transparan, dan kemitraan global terbangun secara berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang pro-investasi, Danantara diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek hilirisasi sekaligus meningkatkan kepercayaan investor internasional.
Presiden juga menegaskan bahwa kepastian hukum dan stabilitas nasional merupakan fondasi utama bagi iklim investasi. Pemerintah berkomitmen menjaga regulasi yang konsisten, sistem perizinan yang efisien, serta stabilitas politik dan ekonomi yang kondusif. Lingkungan usaha yang pasti dan terukur menjadi kunci dalam menarik investasi jangka panjang yang berkualitas.
Sejalan dengan penguatan peran Danantara, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan bahwa adanya pembahasan lanjutan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Agenda tersebut merupakan bagian dari implementasi kesepakatan perdagangan resiprokal yang baru diteken kedua negara.
Salah satu topik pembahasan adalah rencana pengadaan sekitar 50 unit pesawat dari Boeing. Rencana yang telah diwacanakan sejak tahun lalu ini kini memasuki tahap pembahasan yang semakin mengerucut. Langkah tersebut dinilai strategis dalam memperkuat sektor aviasi nasional sekaligus mempererat kemitraan industri antara kedua negara.
Selain sektor penerbangan, pembicaraan juga mencakup rencana impor komoditas energi dari Amerika Serikat. Pemerintah menjajaki pembelian minyak mentah dan gas dengan nilai mencapai USD 15 miliar per tahun. Kerja sama ini dipandang sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keseimbangan perdagangan bilateral.
Lebih lanjut, peluang investasi Amerika Serikat di sektor energi Indonesia, termasuk oil and gas dan sektor strategis lainnya, juga menjadi bagian dari pembahasan. Minat tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan prospek ekonomi Indonesia. Dengan pasar domestik yang besar serta agenda industrialisasi yang progresif, Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai basis produksi dan pusat distribusi regional.
Penguatan kemitraan Indonesia–Amerika Serikat ini sekaligus memperlihatkan bahwa arah pembangunan ekonomi nasional semakin terstruktur dan terukur. Kolaborasi perdagangan, investasi, dan transfer teknologi menjadi satu kesatuan strategi yang saling melengkapi. Melalui skema kerja sama yang berimbang, Indonesia tidak hanya memperluas akses pasar, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas industri dalam negeri.
Di sisi lain, kehadiran Danantara menjadi instrumen penting dalam mengonsolidasikan berbagai potensi investasi tersebut agar terintegrasi dengan agenda prioritas nasional. Dengan pendekatan yang profesional dan akuntabel, Danantara dapat memastikan bahwa setiap proyek strategis memberikan dampak ekonomi berganda, baik dalam bentuk peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, maupun penguatan daya saing industri nasional.
Momentum global yang bergerak menuju ekonomi hijau, transisi energi, dan digitalisasi industri menjadi peluang besar bagi Indonesia. Dengan fondasi sumber daya yang kuat, dukungan kebijakan yang konsisten, serta peran aktif Danantara sebagai lokomotif investasi, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mempercepat transformasi ekonomi. Upaya ini menegaskan tekad pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok dunia sekaligus pusat pertumbuhan baru yang berkelanjutan dan inklusif.
Ke depan, optimalisasi peran Danantara juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha nasional, dan mitra internasional. Integrasi kebijakan industri, energi, dan perdagangan dalam satu kerangka strategis akan memastikan setiap investasi yang masuk benar-benar mendorong pemerataan pembangunan, memperluas basis industri bernilai tambah, serta memperkokoh kemandirian ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang disiplin, Danantara dapat menjadi katalis percepatan transformasi struktural ekonomi nasional. Keberhasilan agenda ini akan mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan baru di kawasan Indo-Pasifik.
)* Penulis adalah Mahasiswa Bandung tinggal di Surabaya













