Cadangan Devisa Kuat, Stabilitas Rupiah Terjaga

oleh -9 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi penopang ketahanan eksternal di tengah tekanan pasar keuangan global. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat US$146,5 miliar, naik dari US$145,3 miliar pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan bantalan ketika rupiah menghadapi tekanan penguatan dolar Amerika Serikat dan volatilitas pasar global.

banner 336x280

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan eksternal Indonesia memiliki ruang yang memadai untuk menghadapi perubahan kondisi global.

Pada saat yang sama, rupiah menguat. Pada perdagangan Rabu, 23 September 2026, rupiah menguat 66 poin atau 0,37 persen menjadi Rp17.818 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.884 per dolar AS. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menguat menjadi Rp17.803 per dolar AS dari Rp17.883 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan kondisi eksternal Indonesia yang masih terjaga turut membantu pergerakan rupiah. Namun, ia melihat penguatan tersebut menghadapi risiko dari dolar AS yang menguat dan volatilitas pasar global. Menurutnya, perkembangan inflasi domestik juga menjadi pertimbangan dalam menentukan ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Tekanan eksternal membuat kebijakan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan pada 6,50 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan keputusan mempertahankan suku bunga tersebut merupakan bagian dari strategi stabilisasi rupiah sekaligus upaya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen pada 2026 dan 2027. Kebijakan itu juga diarahkan untuk tetap mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

BI tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. Bank sentral juga mengoptimalkan intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Langkah tersebut dilengkapi dengan insentif untuk menarik aliran modal asing dan pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan stabilitas rupiah tetap menjadi pertimbangan penting karena ketidakpastian pasar global belum mereda. BI memperkirakan rupiah dapat bergerak stabil dengan dukungan imbal hasil domestik yang menarik, inflasi yang terkendali, komitmen kebijakan bank sentral, serta prospek ekonomi domestik yang positif.

Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi juga didukung perkembangan neraca perdagangan dan arus modal. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali mencatat surplus US$0,12 miliar setelah mengalami defisit US$0,45 miliar pada Juni. Sementara itu, investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 hingga 21 September mencatat net inflow US$0,4 miliar.

Meski demikian, kondisi global belum sepenuhnya mendukung. BI melihat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 masih sekitar 3 persen, sementara tekanan inflasi global meningkat. Ketidakpastian juga dipengaruhi perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal dan menciptakan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, meningkat dari 2,88 persen pada Juli. Inflasi inti masih relatif terkendali pada 2,92 persen, sedangkan inflasi volatile food mencapai 4,06 persen. Perkembangan tersebut membuat ruang pelonggaran moneter perlu dilakukan secara terukur agar dukungan terhadap pertumbuhan tidak mengorbankan stabilitas harga dan nilai tukar.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen. Kredit perbankan pada Agustus tumbuh 13,65 persen secara tahunan, dengan kredit investasi meningkat 25,11 persen. Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih memiliki daya tahan di tengah tekanan eksternal.

Dengan cadangan devisa yang meningkat, surplus perdagangan yang kembali tercatat, aliran modal yang masih masuk, serta kebijakan stabilisasi BI, fondasi eksternal Indonesia memiliki bantalan yang relatif kuat. Namun, cadangan devisa bukan berarti rupiah terbebas dari tekanan. Pergerakan mata uang tetap dipengaruhi kondisi global, arus modal, inflasi, dan arah kebijakan bank sentral utama dunia.

Karena itu, kekuatan cadangan devisa perlu dibaca sebagai modal untuk menjaga stabilitas, bukan alasan untuk mengabaikan risiko. Konsistensi kebijakan moneter, koordinasi fiskal, penguatan sektor riil, pengendalian inflasi, dan pendalaman pasar keuangan tetap diperlukan. Dalam situasi global yang berubah cepat, kombinasi kebijakan tersebut penting agar stabilitas rupiah berjalan seiring dengan upaya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Penguatan ketahanan eksternal perlu diikuti peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi. Diversifikasi ekspor, peningkatan investasi, penguatan industri berorientasi ekspor, serta pengelolaan kebutuhan valuta asing dapat membantu mengurangi kerentanan terhadap gejolak global. Dengan fondasi tersebut, stabilitas rupiah diharapkan tidak hanya ditopang intervensi jangka pendek, tetapi juga oleh fundamental ekonomi yang semakin kuat dan berkelanjutan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.