Oleh: Aditya Pranawa
Ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) menjadi tantangan dalam menjaga ketahanan energi nasional. Di tengah kebutuhan gas yang terus berjalan, pemerintah menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif untuk memanfaatkan potensi gas bumi dalam negeri sekaligus menekan kebutuhan pasokan dari luar negeri. Pemanfaatan CNG dalam tabung berukuran 3 kilogram (kg) ditargetkan mulai diterapkan kepada masyarakat pada 2027.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menempatkan pengembangan CNG sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan sumber daya energi nasional. Indonesia diketahui masih mengimpor sekitar 7 juta hingga 8 juta ton LPG setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik. Besarnya kebutuhan impor itu membuat pengembangan alternatif berbasis gas bumi lokal menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi tekanan terhadap devisa negara.
CNG memanfaatkan gas alam yang dikompresi sehingga dapat disimpan dan diangkut menggunakan tabung khusus. Indonesia memiliki potensi gas bumi, termasuk komponen metana dan etana yang dikenal sebagai C1 dan C2, untuk mendukung pemanfaatan energi tersebut. Optimalisasi pasokan domestik diharapkan dapat memperluas pilihan sumber energi bagi masyarakat dan pelaku usaha, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor secara bertahap.
Penggunaan CNG sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah restoran dan hotel telah memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan energi operasional, sehingga penerapan teknologi ini telah memiliki pengalaman awal di sektor komersial. Bahlil menyebutkan harga CNG di sejumlah penggunaan dapat lebih murah sekitar 30–40 persen dibandingkan LPG, meskipun besaran penghematan pada tingkat rumah tangga nantinya akan bergantung pada biaya pengolahan, distribusi, dan skema penjualan.
Perluasan penggunaan CNG ke tabung berukuran 3 kg menjadi tahapan penting karena segmen ini berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah tidak hanya memastikan ketersediaan gas, tetapi juga menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta dapat didistribusikan secara praktis. Karena itu, kesiapan tabung, sistem pengisian, sarana pengangkutan, dan jaringan penyaluran menjadi bagian penting sebelum penerapan dilakukan secara luas.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa pemerintah masih mengevaluasi hasil uji coba CNG yang telah berlangsung selama satu bulan. Evaluasi itu mencakup kesiapan teknis, operasional, serta skema bisnis yang akan digunakan dalam pelaksanaan program. Pemerintah memperkirakan masih membutuhkan beberapa bulan untuk mematangkan berbagai persiapan tersebut sebelum implementasi ditargetkan pada 2027.
Salah satu langkah yang telah disiapkan ialah pengadaan tabung CNG untuk mendukung penerapan di tingkat pengguna. Laode menyampaikan bahwa kontrak pengadaan mencakup sedikitnya 100.000 unit tabung, termasuk tabung yang didatangkan dari China. Namun, jumlah yang sudah tersedia dan jadwal distribusinya kepada masyarakat belum dirinci, sehingga tahapan pengadaan berikutnya masih menjadi bagian dari persiapan program.
Kesiapan tabung perlu berjalan beriringan dengan penerapan standar keselamatan. CNG disimpan dalam kondisi bertekanan sehingga membutuhkan tabung yang memenuhi spesifikasi, prosedur pengisian yang tepat, serta sistem pemeriksaan dan pemeliharaan berkala.
Dari sisi ekonomi, keberhasilan CNG sebagai alternatif LPG tidak hanya ditentukan oleh harga gas di tingkat produksi. Biaya kompresi, pengangkutan, penyimpanan, pengisian tabung, dan penyaluran hingga pengguna turut memengaruhi harga akhir. Pemerintah perlu menyusun skema bisnis yang mampu menjaga kelayakan operasional sekaligus memastikan energi tersebut tetap terjangkau bagi rumah tangga dan UMKM yang menjadi sasaran pemanfaatannya.
Founder sekaligus Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menilai pemanfaatan gas bumi secara lebih luas melalui CNG dan jaringan gas rumah tangga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi negara maupun masyarakat. Penggunaan sumber energi domestik dapat membantu menghemat devisa, sementara efisiensi biaya energi berpeluang memperkuat daya tahan usaha kecil. Menurut pandangan tersebut, manfaat pengembangan gas bumi akan semakin besar apabila didukung kebijakan yang konsisten, kepastian pasokan, dan infrastruktur yang memadai.
Pengembangan CNG juga dapat melengkapi jaringan gas yang belum menjangkau seluruh wilayah. Distribusi melalui sistem virtual pipeline memungkinkan gas diangkut menggunakan sarana khusus menuju kawasan yang belum terhubung dengan jaringan pipa konvensional. Pendekatan ini dapat menjadi pilihan bagi kawasan permukiman dan pelaku usaha tertentu, sepanjang tersedia pasokan yang memadai serta perhitungan biaya distribusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
Kepastian pasokan gas dalam jangka panjang menjadi faktor lain yang menentukan keberlanjutan program. Pemerintah perlu menyelaraskan ketersediaan gas dari hulu dengan kebutuhan pengguna, termasuk menetapkan mekanisme alokasi dan harga yang mendukung pemanfaatan untuk pelayanan publik. Kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, dan pelaku industri juga dibutuhkan agar pengembangan infrastruktur serta distribusi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Target penerapan CNG tabung 3 kg pada 2027 membuka peluang bagi Indonesia untuk memperbesar peran gas bumi domestik dalam memenuhi kebutuhan energi. Apabila persiapan teknis, skema bisnis, dan distribusi selesai dengan baik, CNG berpotensi menjadi salah satu langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor dan memperkuat ketahanan energi dari sumber daya negeri sendiri.
)* Pengamat Ekonomi dan Energi












