Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai gangguan layanan kelistrikan di sejumlah wilayah, termasuk Batam, serta kendala distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Bali.
Menyikapi persoalan tersebut, pemerintah mendorong pembenahan layanan listrik secara lebih intensif agar keandalan pasokan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat semakin terjaga.
“Saya melaporkan beberapa perkembangan terkait dengan tadi saya mewakili Bapak Presiden di acara membuka Trade Expo yang ke-41 di Tangerang. Yang kedua, saya melaporkan perkembangan pembahasan RUU Migas kepada Bapak Presiden,” ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan, gangguan listrik di Batam diduga dipicu masalah teknis, termasuk jaringan yang terdampak petir. Ia akan meminta penjelasan lebih detail kepada PLN terkait penyebab gangguan, pemulihan layanan, dan kemungkinan kompensasi bagi pelanggan.
“Saya nanti akan bicarakan terlebih dahulu dengan teman-teman dari PLN, karena PLN yang paling tahu secara teknis implementasi di lapangan,” katanya.
Sejalan dengan evaluasi tersebut, Presiden Prabowo juga meminta Danantara Indonesia mempercepat transformasi PLN.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa pembenahan akan mencakup model bisnis perusahaan agar lebih efisien, produktif, dan tanggap dalam menghadapi gangguan pasokan listrik.
“Kita diminta oleh Bapak Presiden agar transformasi di PLN ini, baik dari terutama dari segi bisnis modelnya, itu untuk dibua. Juga untuk segera dipaparkan kepada beliau untuk segera kita tindak lanjuti,” kata CEO Danantara.
Rosan menjelaskan, Danantara bersama tim PLN akan menyusun asesmen dan usulan transformasi untuk ditindaklanjuti pemerintah. Evaluasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat produktivitas, serta mengurangi beban subsidi.
Pemerintah juga membahas percepatan pemanfaatan energi terbarukan melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).
“Kita membicarakan bagaimana pertama meng-accelerate apa transformasi di PLN untuk menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih tanggap. Juga meng-accelerate penggunaan 100 gigawatt solar panel,” ucapnya.
Selain transformasi bisnis, Rosan menekankan pentingnya rencana cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan listrik kembali terjadi.
“Kita harus selalu siap dalam segala kondisi, kita harus punya selalu backup plan yang mungkin selama ini yang harus ditebalkan juga di PLN. Apabila ada kejadian tuh backup plan-nya itu seperti apa,” pungkasnya. *
[w.R]











